Balita dengan gizi buruk mempunyai dampak jangka pendek dan panjang, berupa gangguan tumbuh kembang, termasuk gangguan fungsi kognitif, kesakitan dan risiko penyakit. Balita gizi buruk sangat rentan dengan penyakit infeksi dan tidak jarang gizi buruk disebabkan oleh penyakit infeksi sehingga butuh penanganan yang tepat, cepat dan terintegrasi antara rawat inap, rawat jalan serta mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat.

Apabila program pemberdayaan masyarakat dan deteksi dini berjalan secara optimal, maka balita gizi buruk dapat diberikan pelayanan rawat jalan. Dengan adanya hal tersebut, maka untuk peningkatan kapasitas tenaga kesehatan puskesmas dalam penanganan gizi buruk secara terintegrasi Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi menyelenggarakan Orientasi Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) di Kabupaten Ngawi.

Orientasi Pengelolaan ini juga dihadiri oleh perwakilan Dokter Umum, Pengelola Gizi, dan juga Perawat/Bidan seluruh puskesmas di Kabupaten Ngawi. Sekaligus pemberian materi yang disampaikan oleh narasumber dr. Karina Widowati, MPH Perwakilan UNICEF Jawa Timur dan Paramita Viantry, S.Gz, RD, M.Biomed Dosen Prodi S1 Gizi UNUSA. Bertempat di Kurnia Convention Hall pada hari, Rabu (13/8/2025)